Asal Mula Kota Banyuwangi

Terjadinya Kota Banyuwangi

Beberapa abad yang lalu di Jawa Timur, sewaktu Raja Sindurejo masih bertakhta, di tepi sungai bertempat tinggal seorang Patih, Sida Peksa namanya. Dia kawin dengan seorang wanita Hindu yang cantik dari kasta yang rendah, dan yang bertentangan dengan kehendak ibunya. Ibunya seorang wanita yang sangat angkuh, berasal dari kasta Brahma.
Ibu Patih Sidapaksa, selain angkuh juga kejam.  Ia sangat membenci menantunya yang sebetulnya begitu cantik dan lemah lembut itu,hanya karena berasal dari kasta yang rendah.Sang Ibu yang berhati jahat ini pun diam-diam mempengaruhi Raja Sindurejo untuk mengutus anaknya ke suatu negara, supaya ia tidak dapat kembali dengan segera.
Raja tiada mengetahui maksud tersembunyi yang akan dijalankan oleh ibunda dari Patih Sida Peksa itu. Maka Raja Sindurejo pun mengutus Sida Peksa ke Gunung Ijen untuk memetik bunga abadi  yang berkhasiat  sebagai obat awet muda dan keindahan secara abadi. Bunga itu diperuntukkan bagi Sang Permaisuri dan Sang Raja. Karena begitu banyak bahaya dan kesukaran yang bakal dihadapi, Raja Sindurejo menjamin Patih Sida Peksa tidak akan cepat datang kembali.
Dengan sangat sedih karena harus meninggalkan istrinya yang baru hamil muda itu, Patih Sida Peksa berangkat juga menjalankan perintah Sang Raja. Sang Patih sama sekali tidak mengetahui kalau semua itu bisa terjadi karena rekayasa Ibudanya sendiri. Sebelum berangkat Patih Sida Peksa memohon dengan sangat kepada Ibunya agar turut menjaga sebai-baiknya istrinya yang sedang hamil muda. 
Tidak beberapa lama kemudian setelah Patih Sida berangkat, lahirlah seorang bayi laki-laki yang cakap. Namun Sang Ibu mertua yang tidak menghendaki adanya cucu lahir dari orang sudra, dengan kejam membuang bayi yang baru lahir itu disaat Sang Ibu tak berdaya sehabis melahirkan. Istri Patih Sida Peksa pun menjadi pinsan mengetahui kekejaman Ibu mertuanya.Dengan hati pilu ia selalu menyusuri sepanjang sungai berharap menemukan anak yang dikasihinya. Akan tetapi tak dapat ia menemukan anaknya itu.
Tanpa terasa dua tahun tlah berlalu sejak kejadian di sungai itu. Dan dua tahun lamanya juga yang diperlukan oleh Sang Patih untuk mengambil bunga, yang akan memberikan keawetan muda dan keindahan yang abadi kepada Sang Permaisuri, dari Gunung Ijen. Dan sekarang ia telah membawa bunga yang berharga itu kepada Sang Raja.
    Tanpa membuang waktu Patih Sida Peksa segera pulang kerumah karena rasa rindunya keada istri dan keinginannya melihat anaknya. Akan tetapi baru saja ia menginjakkan kakinya di pintu rumah, ibunya yang buru-buru datang menjemputnya.Dengan roman muka yang dibuat sedih dan memelas, ia menceritakan segala kejelekan istrinya selama suaminya pergi. Dan dengan kejam memfitnah menantunya sebagai Ibu yang tega membunuh bayinya sendiri dengan cara melempar ke dalam sungai.
Patih Sida Peksa pun terbakar kemarahannya mendengar semua cerita Ibunya itu. Hilang sudah segala kerinduannya, dan berganti rasa amarah dan dendam mendengar nasib tragis anaknya yang meninggal dengan cara dilempar ke sungai. Dengan penuh amarah Sang Patih segera menyeret istrinya ke tepi sungai dan bersiap pula menghunus keris pusakanya yang ampuh.
” Sebelum kamu mati, dengan keris ampuh ini, katakanlah, mengapa kau begitu tega melempar anakmu ke sungai....”
 “Mengapa tanganmu harus kau kotori dengan darah orang yang tidak bersalah? Dan mengapa kau tanyakan kematian anak kita kepadaku.Ibumu yang lebih tahu semuanya itu. Tapi apalah gunanya pembelaanku. Lemparkan saja aku ke sungai biar kamu puas. Namun ingat pesanku. Bila sungai itu kemudian berbau wangi, hanya itu sebagai bukti kalau aku tak bersalah”
Sang patih sama sekali tak mau mendengar perkataan istrinya, dengan kesaktiannya dilemparkannya istrinya ke dalam sungai. Ia sama sekali tak berbelas kasih memandangi istrinya yang diambang maut di sungai. Ia baru tersadar setelah beberapa saat kemudian mencium bau wangi yang teramat sangat dari sungai. Patih Sida Peksa pun jadi teringat pesan istrinya, bukan main sedih hatinya. Namun penyesalan tinggal penyesalan, semuanya tak bisa menghidupkan istri yang amat dicintainya itu. Dan sebagai tanda peringatan atas peristiwa itu, tempat itu kemudian dinamakan Banyuwangi. 
***
Comments
0 Comments
diberdayakan oleh Media Blogger

0 komentar:

Poskan Komentar